Rabu, 18 April 2012

Konsep dan Prinsip Akuntansi dalam Perspektif Islam

KONSEP AKUNTANSI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Mungkin belum banyak orang yang mengetahui bahwa Akuntansi yang merupakan cabang ilmu ekonomi yang saat ini sangat pesat perkembangannya disemua sektor baik swasta maupun publik, ternyata konsep dasarnya telah diperkenalkan oleh Al- Quran, jauh sebelum Lucas Pacioli (dikenal dengan “Bapak Akuntansi”) memperkenalkan konsep akuntasi double-entry bookkeeping dalam salah satu buku yang ditulisnya pada tahun 1494.  Hal ini dapat dilihat berdasarkan Surat Al-Baqarah ayat 282 di atas,  Allah secara garis besar telah menggariskan konsep akuntansi yang menekankan pada pertanggungjawaban atau akuntabilitas.  
Tujuan perintah dalam ayat tersebut jelas sekali untuk menjaga keadilan dan kebenaran yang menekankan adanya pertanggung jawaban.  Dengan kata lain, Islam menganggap bahwa transaksi ekonomi (muamalah) memiliki nilai urgensi yang sangat tinggi, sehingga adanya pencatatan dapat dijadikan sebagai alat bukti (hitam di atas putih), menggunakan saksi (untuk transaksi yang material) sangat diperlukan karena dikhawatirkan pihak-pihak tertentu mengingkari perjanjian yang telah dibuat.  Untuk itulah pembukuan yang disertai penjelasan dan persaksian terhadap semua aktivitas ekonomi keuangan harus berdasarkan surat-surat bukti berupa: faktur, nota, bon kuitansi atau akta notaries untuk menghindari perselisihan antara kedua belah pihak. Dan tentu saja adanya sistem pelaporan yang komprehensif akan memantapkan manajemen karena semua transaksi dapat dikelola dengan baik sehingga terhindar dari kebocoran-kebocoran. Menariknya lagi, penempatan ayat tersebut sangat relevan dengan sifat akuntansi, karena ditempatkan pada surat Al-Baqarah yang berarti sapi betina yang sebenarnya merupakan lambang komoditas ekonomi.
Karakteristik perbedaan antara prinsip akuntansi syariah dengan akuntansi konvensional adalah akuntansi syariah tidak mengenal riba dalam prakteknya, tidak mengenal konsep time-value of money, uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditi yang diperdagangkan serta menggunakan konsep bagi hasil.   Hal ini sejalan dengan konsep Islam  seperti yang tercantum dalam Al-Quran (2:275-281), dimana Allah telah menjelaskan tentang hukum riba dan akibatnya bagi orang yang memakan riba, dan agar terhindar dari riba dianjurkan menunaikan zakat.  Selain itu dalam ayat  lain     (QS, 2:283) dalam bermuamalah dapat dilakukan dalam perjalanan, dan hal ini menuntut adanya pembuktian agar suatu waktu hendak menagih memiliki bukti yang cukup atau adanya barang yang dibawa senilai barang dagangan yang ditinggalkan (borg).
Terdengar juga kabar burung bahwa akuntansi syariah adalah akuntansi yang berhubungan dengan aspek-aspek leingkungannya. Syariah Islam mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia baik ekonomi politik, sosial dan filsafah moral, termasuk dalam hal akuntansi. Hal ini sejalan dengan perannya yang rahmatan lil alamin.

PRINSIP AKUNTANSI DALAM PERSPEKTIF ISLAM
  • ·         Prinsip Pertanggung Jawaban
Prinsip pertanggungjawaban merupakan konsep yang tidak asing lagi di kalangan masyarakat muslim. Pertanggungjawaban berkaitan langsung dengan konsep amanah. Dimana implikasinya dalam bisnis dan akuntansi adalah bahwa individu yang terlibat dalam praktik bisnis harus selalu melakukan pertanggungjawaban apa yang telah diamanatkan dan diperbuat kepada pihak-pihak yang terkait. Pertanggungjawaban diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan.
  • Prinsip Keadilan
Prinsip keadilan ini tidak saja merupakan nilai yang sangat penting dalam etika kehidupan sosial dan bisnis, tetapi juga merupakan nilai yang secara inheren melekat dalam fitrah manusia. Dalam konteks akuntansi keadilan mengandung pengertian yang bersifat fundamental dan tetap berpijak pada nilai-nilai etika/syariah dan moral, secara sederhana adil dalam akuntansi adalah pencatatan dengan benar setiap transaksi yang dilakukan oleh perusahaan.
  • Prinsip Kebenaran
Prinsip kebenaran ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dengan prinsip keadilan. Kebenaran ini akan dapat menciptakan keadilan dalam mengakui, mengukur, dan melaporkan transaksi-transaksi ekonomi.

Rabu, 11 April 2012

KEPRIBADIAN SESEORANG PENTING UNTUK SEBUAH ORGANISASI



Tentunya kita  tidak asing lagi dengan istilah kepribadian bukan? Kepribadian dimiliki seseorang melalui sosialisasi sejak ia dilahirkan. Lalu apa yang kita ketahui tentang kepribadian?


 
Kepribadian memiliki arti yang sangat luas, beberapa ahli berpendapat bahwa kepribadian adalah :
“ Kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini, dan sikap-sikap seseorang “.  ( M.A.W. Brower )
“ Kepribadian adalah suatu susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seseorang”. ( Koentjaraningrat )
“ Kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku seseorang”. (Roucek dan Warren )

Dari pengertian yang diungkapkan oleh para ahli di atas, dapat kita simpulkan secara sederhana bahwa yang dimaksud kepribadian ( personality ) merupakan ciri-ciri dan sifat-sifat khas yang mewakili sikap atau tabiat seseorang, yang mencakup polapola pemikiran dan perasaan, konsep diri, perangai, dan mentalitas yang umumnya sejalan dengan kebiasaan umum. Kepribadian adalah sesuatu dalam melakukan sesuatu.

Bagaimana kepribadian yang harus ada dalam organisasi?
Dalam berorganisasi kita harus menyesuaikan kepribadian yang harus bagaimana yang harus kita lakukan di dalam sebuah organisasi. Beberapa kepribadian organisasi antara lain:
*      Kepribadian berani dalam mengambil resiko
Budaya organisasi yang mendorong para pegawainya untuk berani mengambil resiko. Budaya ini biasanya dikembangkan oleh organisasi-organisasi yang perkembangannya ditentukan oleh kemampuan mengambil resiko. Namun demikian, agar resiko tersebut tidak menjadi sesuatu yang merugikan bagi organisasi, maka organisasi akan membekali kemampuan karyawannya untuk memiliki kemampuan dalam melakukan estimasi. Lembaga-lembaga yang biasanya mengembangkan kemampuan ini adalah lembaga perbankan.
*      Kepribadian focus dalam hal-hal yang detail
Ini adalah salah satu jenis budaya organisasi yang memfokuskan pada upaya sungguh-sungguh pada tingkat akurasi dan kedetailan. Organisasi yang memfokuskan pada tingkat kedetailan ini biasanya organisasi yang menghasilkan produk yang memerlukan tingkat ketelitian tinggi. Organisasi-organisasi elektronik merupakan organisasi yang seringkali membudayakan pada kedetailan.

*      Kepribadian berorientasi pada hasil
Beberapa organisasi yang sukses, memiliki budaya yang berorientasi pada hasil. Pada organisasi jenis ini seringkali memberikan layanan purna jual yang sangat bagus, demi untuk menjamin produk yang telah dihasilkannya. Pada organisasi jenis ini pelayanan kepada pelanggan merupakan hal yang sangat penting. Jenis organisasi yang bergerak dalam bidang property dan telekomunikasi seringkali mengembangkan budaya ini
*      Kepribadian berorientasi pada manusia
Beberapa organisasi memandang SDM adalah bagian paling penting dalam keseluruhan proses yang ada di organisasi. Organisasi jenis ini akan memperlakukan karyawan dengan fleksibilitas yang tinggi, iklim organisasi yang seperti keluarga, dan hubungan diantara karyawan dan manajer yang sangat hangat. Dengan demikian karyawan akan merasa sangat senang untuk bekerja.
*      Kepribadian berorientasi pada tim kerja
Organisasi yang sangat besar, seringkali harus beroperasi pada tim-tim kecil yang sangat efektif. Dengan tim tersebut, organisasi dapat menyelesaikan berbagai jenis pekerjaan dengan lebih cepat dan efektif. Organisasi-organisasi yang seringkali menekankan pada tim ini adalah organisasi-organisasi yang bergerak diwilayah konsultansi. Konsultan hukum misalnya, akan seringkali bergerak dengan mengandalkan tim-tim yang sangat baik.
*      Kepribadian berorientasi pada kedinamisan
Organisasi yang memiliki budaya yang memfokuskan pada kedinamisan dan pertumbuhan. Organisasi jenis ini sangat mengandalkan inovasi dan perkembangan-perkembangan produk.
Dari mana asal sumber budaya organisasi tersebut? kebiasaan-kebiasaan, tradisi, dan berbagai cara umum yang ada dalam organisasi biasanya bersumber dari pengalaman sukses organisasi tersebut dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaannya. Sumber utama budaya organisasi pada umumnya adalah refleksi dari visi dan misi organisasi dari para pendiri organisasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan pendiri organisasi memiliki ide yang orisinal tentang apa yang harus dilakukan oleh orang-orang yang ada dalam organisasinya. Organisasi yang kecil ketika saat didirikan, adalah faktor pendukung dalam mengembangkan budaya organisasi oleh para pemimpin/ pendiri  dan menginternalisasikannya kepada seluruh anggota organisasi. Dengan demikian sumber utama budaya organisasi adalah para pemimpin dan pendiri organisasi, yang kemudian dalam bentuk rencana strategis digambarkannya pada visi dan misi organisasi. Budaya organisasi tersebut kemudian di sebarluaskan dan diinternalisasikan kepada seluruh anggota organisasi melalui cerita-cerita, ritual-ritual, simbol-simbol, dan bahasa.
 Kajian saya tentang artikel ini ::

Menurut saya kepribadian memang hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap individu. Karena semua aktivitas individu sangat berkaitan erat dengan kepribadian.
Setiap individu memiliki sifat yang unik. Satu orang dengan orang yang lain memiliki kepribadian yang berbeda. Kepribadian itu sangat berhubungan dengan sikap-sikap seseorang untuk bertindak, berpikir, merasakan, cara berhubungan dengan orang lain, dan cara seseorang menghadapi masalah. Kepribadian sendiri terbentuk melalui proses sosialisasi yang panjang sejak kita dilahirkan. Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat seseorang yang bisa berubah dan berkembang seiring proses sosialisasi yang dilakukan individu tersebut.
Seseorang yang memiliki kepribadian yang baik adalah seseorang yang bisa dipastikan dapat bersosialisasi dalam sebuah organisasi. Dengan kepribadian tersebut seseorang dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mendapatkan penghargaan dari orang lain/ dihormati. Sehingga yang perlu ditumbuhkan dalam diri seseorang adalah bagaimana caranya menumbuhkan sikap-sikap yang baik.